Danau Toba

Danau Toba
Cerita Rakyat

Selasa, 11 Februari 2020

Tugas 4


HATI YANG TERTINGGAL




  Namaku Nadila Gustiani usiaku 13 tahun. Aku adalah gadis remaja yang tinggal bersama ibu dan adikku, Kami tinggal disebuah Desa yang lumayan jauh dari pusat kota. Anak sezamanku lebih menyukai kehidupan di desa layaknya tenang dan damai daripada dikota yang ribut dengan berbagai bangunan dan fasilias lainnya. Aku memiliki seorang adik perempuan yang bernama Salwa Olivia Indah. Usia kami hanya terpaut 7 tahun.

  Saat menginjak bangku SMP ibu mengajak Ku ke salah satu Pondok Pesantren yang lumayan jauh dari Desaku. Pada awal aku menginjakkan kaki keluar dari halaman rumahku rasanya begitu berat. Aku harus meninggalkan temanku, sahabatku, atau bahkan keluarga yang sengat aku sayangi. NAmun aku yakin bahwa Allah tidak akan akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya.

  Saat diperjalanan aku menghela nafas panjang, berusaha tenang dengan fikiranku yang tak karuan dan berusaha mengembalikan pikiran tentang ibu yang tiba-tiba menyuruhku untuk tinggal di sebuah pesantren. Aku harus yakin bahwa ibu sangat menyayangiku. Ia hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak nya. Aku melirik ibu yang sedang beristirahat dimobil sambil tersenyum. Aku menyayangi Ibu;)

  Setelah berbincang sangat lama akhirnya mobil yang aku dan keluargaku naiki tiba di halaman Pondok Pesantren yang lumayan megah dengan bangunan tua yang disana terdapat beberapa tanaman bunga, pepohonan, yang terlihat selalu dirawat oleh pemiliknya. Indah sekali, aku sangat menyukainya. Para santri/santriyah pun berlalu lalang menyambut  kedatangan ku dan Keluargaku.

  Seorang wanita tua yang masih terlihat sangat muda menghampiriku. Dia menyambut kedatanganku dengan sangat Ramah. Salah satu santriyah yang cukupnaku kenal memperkenalkan bahwa dia adalah Istri dari Pimpinan Pondok ini atau dapat disebut dia adalah Ibu pengasuh kami. Aku pun mencium kepala tangan nya dengan santun. Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku.

  Setelah iyu Ibu pengasuh ku menunjukan kamar yang akan ku tempati. Aku ditenmpatkan dikamar kedua bersama ketiga kakak kelasku. Dia bernama Rifa Rifatul Ummah dia adalah kakak tertua dikamarku dia juga adalah ketua kamar. Kedua Kak Salma Rahmah dia sekarang duduk dibangku SMA kelas 11. Ketiga Kak WArdatunnisa dia sekarang duduk dibangku SMP kelas 3.

   Waktu menunjukkan pukul 17.00 ibuku dating menghampiriku. Ia berkata. “Kak ibu pulang yah, semoga kakak betah disini’. Akupun tersenyum dan mengangguk. Setelah itu aku mengantarkan Ibu ke Mobil sambil memeluk nya aku akan benar-benar mandiri sekarang. Mobil yang ibuku dan keluargaku pun telah meninggalkan halaman Pondok. Akupun pergi ke kamar untuk merapihkan baju-baju ku.
           
                                   


  Adzan magrib pun telah berkumandang seluruh santriyah pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Setelah selesai kami diwajibkan untuk membaca al-qur’an sampai isya, lalu setelah itu kami pun dapat diperbolehkan masuk kamar masing-masing. MAlam telah larut aku hanya dapat berdiam mengingat betapa aku merindukan sosok ibu yang selalu berada disampingku. 3 hari berlarut-larut aku dalam kesedihan.

  Angin pagi pun menusuk tubuhku. Waktu telah berganti malam tlah pergi. Akupun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wudhu. Setelah itu aku beres-beres halaman. Indah rasanya sambil mendingarkan sholawat yang diputar disana. Setelah beres akupun makan bersama kakak kamarku. Aku memang sudah cukup beradaptasi bersama santiyah meskipun tak semua tahu hanya beberapa orang saja yang ku kenal.

  Sore hari aku mulai mengaji Qiroat meski suara ku tak begiku bagus tapi aku harus mengikuti aturan disini. Setelah mengaji sore kami melaksanakan sholat berjamaah magrib seperti biasanya. Lalu, dilanjut dengan mengaji kitab dari Kitab Sapinah, Jurumiyah, dan Al-qur’an sampai isya. Setelah selesai kami pun melanjutkan sholat isya berjamaah lalu mengaji lagi sampai jam Sembilan.





11 komentar: